Oik! Oik! Oik!
Oiiik! Oiiik! Oiiik!
Ah, bukan, Kawan. Tentu saja itu bukan suara babi yang sedang terjepit posisinya saat opung saya yang sudah rabun tengah menghunuskan parangnya untuk menjadikannya sangsang (baca: saksang). Dan tentunya tak perlu jugalah saya menjelaskan apa itu sangsang… ‘Cause I do believe you are smart enough to understand it by now. Hehehe.
Dan seperti yang mungkin kawan-kawan sudah ketahui sebelumnya, (terutama oleh kamu, iya kamu, alah gak usah nengok kanan-kiri! Saya tahu kamu sekarang lagi nyindir saya gak kreatif karena sok ngikutin Andrea Hirata pakai kata ‘kawan’. Iya kan? Tapi memang iya sih, hehehe), anyway, oik adalah cara orang Belanda menyebut hai.
So what’s the first thing crossing your mind hearing the word ‘Holland’ or ‘the Netherlands’? Yup, same here. The fact that they have ‘baby sit’ our country for about 350 years, oh, and have I mentioned THREE HUNDRED AND FIFTY years???
Tapi sebagai seorang debater (ah, kawan, betapa intelek terdengar kata tersebut) yang selalu melihat masalah dari segala sisi, saya mencoba mengekspansi perspektif saya yang terkotak tentang Belanda, dan tahukah kau, kawan, bahwa:
- Ada 16 juta sepeda di Belanda, ini hampir sama dengan jumlah penduduk Belanda. Hal ini menunjukkan kepribadian penduduk Belanda yang praktis, mandiri dan peduli lingkungan.
- Dataran tertinggi di Belanda hanya setinggi 323 meter dan sudah disebut gunung! (Kebayang dong noraknya mereka kalau ngeliat gunung-gunung di Indonesia J)
- Belanda merupakan negara non berbahasa Inggris pertama yang menawarkan program studi dengan menggunakan bahasa Inggris sebagai bahasa pengantar, sehingga memungkinkan ribuan mahasiswa internasional mengenyam pendidikan di universitas-universitas dalam negerinya yang mutunya diakui dunia.
- Bioskop-bioskop di Belanda menyajikan film-film dari seluruh dunia dalam bahasa aslinya. Meskipun saya yakin film-film tersebut pasti ada subtitle-nya, tapi secara umum fakta ini menunjukkan bahwa penduduk Belanda menghargai keberagaman.
- Masih berkaitan dengan ‘keberagaman’, karena letaknya yang strategis Belanda merupakan pertemuan kebudayaan Inggris, Prancis dan Jerman dan sebagian besar penduduknya berbahasa Inggris dalam kehidupan sehari-hari! (Ck ck ck… truly a global community!)
- Ah, tak perlu pulalah saya menyebutkan karya dan apresiasi seni orang Belanda yang mencengangkan. Sosok-sosok sekaliber Anne Frank, Vincent van Gogh dan DJ Tiesto bermunculan dari negara yang luasnya hanya 41,000 km2 tersebut. Oh, oh, don’t forget Parkpop! Parkpop adalah festival musik internasional terbesar di Eropa yang diadakan di Den Haag setiap bulan Juni yang harga tiketnya: GRATIS… TIS… TIS… TIS alias kaga bayar, cuy! Cihuyyy!!!
- Dalam bidang pendidikan, total jumlah dana yang disediakan oleh Pemerintah Belanda untuk mahasiswa internasional adalah sebesar 5.2 juta per tahun. Dan Indonesia adalah salah satu negara yang penduduknya berkesempatan meraih beasiswa-beasiswa internasional yang disediakan, seperti HSP Huygens, Erasmus Mundus, StuNed dan NFP. (Ayo, kita apply!!!)
So, based on the above statements, let me make my stance clear. I believe:
There are more to the Netherlands than its historical injustice towards our country. If we look further, we’ll see that: “The Netherlands show (please notice that the verb is in present tense) significant appreciation towards multiculturalism and education.”
In other words, studying in the Netherlands which is famous for its quality education gives us chance not only to acquire knowledge and competenceon our chosen subject, but also provides us the opportunity to appreciate multicultural society a.k.a University of life where we learn to value differences positively.
Kembali kepada persoalan babi terjepit tadi, oik sebenarnya dibunyikan ‘Wi’, jadi tak perlulah kau khawatirkan soal keselamatanmu, kawan, karena opung saya masih sangat tajam pendengarannya…
p.s: Saya pribadi sih ngincer LUF Scholarship for master degree, tapi apalah mau dikata, kawan, skripsi S1 saya saja belum kelar. Huhuhu…
Sources: Nuffic Booklet, July 2006.
Edensor by Andrea Hirata, 2007.
Pic taken from: nm.gisecurity.nl



